Sabtu, 18 Maret 2017

Implikasi Tahapan Perkembangan Terhadap Pendidikan

Kelompok 5 Pendidikan

Implikasi Tahapan Perkembangan dengan Pendidikan

      I.            Masa Kanak-Kanak Awal (prasekolah)
·         Dimulai dari umur 2-6 tahun
·         Banyak bereksplorasi, dimana adanya proses meniru oranglain
·         Masa bermain
·         Perkembangan Kognitifnya berada di tahap Praoperasional
·         Perkembangan Moral berada di tahap Prakonvensional
Tahap 1           : Orientasi Hukuman (2-4 tahun)
Tahap 2           : Orientasi Ganjaran (4-6 tahun)
·         Pemikirannya bersifat egosentris

Implikasinya    :
            Menurut Frank dan Teresa Caplan ada 16 manfaat bermain, yaitu membantu pertumbuhan dan perkembangan, merupakan kegiatan yang disukai, menawarkan kepada anak kebebasan untuk bertindak mandiri, memberikan dunia imaginer untuk anak, memberikan berbagai petualangan, memberikan kesempatan untuk mengembangkan bahasa, merupakan kekuatan untuk hubungan antar pribadi, kesempatan untuk menguasai keterampilan fisik diri sendiri, mengembangkan minat dan konsentrasi, merupakan cara anak memeriksa dunia materi, belajar berperan sebagai orang dewasa, merupakan sarana belajar yang dinamik, mempertajam pertimbangan, bermain dapat distrukturkan secara akademik, bermain dapat memberikan gairah hidup, dan mengandung unsur esensial untuk mempertahankan kehidupan umat manusia.
            Dalam mengatur strategi untuk proses pendidikan anak pada tahap ini, perlu diatur sebuah jadwal yang nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan karena adanya rasa aman dari proses kegiatan yang dijadwalkan tersebut.
Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan :
1.      Kegiatan belajar di tempat terbuka
Proses pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di dalam ruangan, kadang di tempat terbuka merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan pada tahap ini. Kegiatan ini umumnya membantu melatih gerakan-gerakan otot-otot besar maupun halus. Memanjat, melempar, menendang, meloncat, lari merupakan kegiatan-kegiatan yang melatih otot-otot besar. Selain itu, kegiatan ini juga membantu dalam mengembangkan kemampuan kognitif, sosial maupun emosional. Kegiatan ini hendaknya perlu pengawasan dari orang dewasa.

2.      Kegiatan Seni dan Kreativitas
Menurut Eisner, setiap orang mempunyai kemampuan untuk kreatif, meskipun pada tingkat yang berbeda. Lowenfeld dan Brittain, menyatakan bahwa orang yang kreatif adalah orang-orang yang memiliki motivasi, ingin tahu dan juga imaginasi. Kegiatan seni dapat berupa kegiatan menggambar, seni tiga dimensi seperti kolase sampai patung, membentuk bangunan yang menggunakan pasir, dan balok-balok kayu.
Berbagai manfaat daapat dicapai melalui kegiatan seni, seperti
§  Seni melatih ekspresi diri
§  Seni melatih keterampilan persepsual-motorik (koordinasi mata dan tangan)
§  Seni meningkatkan perkembangan kognisi (memahami, mengorganisasi, menggunakan konsep)
§  Seni meningkatkan perkembangan sosial-emosional

3.      Kegiatan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial
Contoh kegiatan Ilmu sosial
·         Memahami diri sendiri dan orang lain (secara psikologik maupun fisik)
·         Identifikasi jenis kelamin
·         Memelihara diri (kebersihan, kerapihan)
·         Mengenal keluarga dan hubungan keluarga
·         Mengenal  masyarakat dengan berbagai unsur kehidupannya
Contoh kegiatan Ilmu Alam
·         Belajar mengenal iklim dan musim
·         Belajar mengenal kehidupan tanaman (melakukan pengamatan dengan berkebun)
·         Belajar mengenal kehidupan binatang

4.      Kegiatan Bahasa
·         Suasana kelas hendaknya santai dan merangsang anak untuk bebas berbicara dengan tiap orang
·         Guru menghargai setiap anak dan memberi kesempatan untuk berbicara
·         Guru memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperluas pembendaharaan kata, meningkatkan kemampuan merumuskan kalimat dan mendeskripsikan kedian secara beruntun
·         Guru memberi petunjuk yang jelas, ataupun memberi masukan ketika ana-anak menggunakan kata yang keliru
·         Guru ikut berpartisipasi dalam kegiatan anak

5.      Kegiatan Bernyanyi
·         Memilih lagu yang sesuai
·         Memilih lagu yang isinya memiliki sebuah “pesan” untuk pembelajaran anak

6.      Kegiatan Wisata
·         Melihat binatang, tumbuhan
·         Melihat tempat kerja, mesin-mesin peralatan, museum dll

7.      Kegiatan Drama
Berfungsi untuk mengembangkan kognitif, fisik, kreativitas, sosialisasi dan emosi.


    II.            Masa Kanak-Kanak Akhir (tingkat SD)
·         Sejak umur 6 tahun-matang secara seksual
·         Pengaruh dari teman sebaya mulai dominan
·         Perkembangan kognitif berada di tahap Operasional Konkrit
1.      Mampu berpikir logis tentang objek dan kejadian, mampu mengklarifikasi objek
·         Perkembangan moral berada di tahap Konvensional
Tahap 3           : Orientasi “good boy/girl”
Tahap 4           : Orientasi otoritas
·         Perkembangan psikososial berada di tahap Industry vs Inferiority



Implikasinya    :
   Ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
1.      Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
2.      Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
3.      Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
4.      Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
5.      Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
6.      Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
7.      Hal-hal yang bersifat konkret lebih mudah dipahami ketimbang yang abstrak.
8.      Kehidupan adalah bermain. Bermain bagi anak usia ini adalah sesuai yang dibutuhkan dan dianggap serius. Bahkan anak tidak dapat membedakan secara jelas perbedaan bermain dengan bekerja
9.      Kemampuan mengingat (memory) dan berbahasa berkembang sangat cepat dan mengagumkan.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
1.      Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
2.      Sangat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3.      Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
4.      Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
5.      Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
6.      Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Usia 9-12 tahun memiliki ciri perkembangan sikap individualis sebagai tahap lanjut dari usia 6-9 tahun dengan ciri perkembangan sosial yang pesat. Pada tahapan ini anak/siswa berupaya semakin ingin mengenal siapa dirinya dengan membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Jika proses itu tanpa bimbingan, anak akan cenderung sukar beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk itulah sekolah memiliki tanggung jawab untuk menanggulanginya.

Yang dapat dilakukan:
v  Beberapa ide agar anak-anak yang cenderung visual (belajar melalui penglihatan) dapat belajar dengan lebih baik :
1.      Pilihkan buku dengan gambar yang berwarna-warni, namun bukan buku komik.
2.      Menonton video dan melihat foto.
3.      Membuat kliping dari majalah bekas.
4.      Mewarnai, menggambar dan membuat kolase.
5.      Menghias : ajak anak anda memilih hiasan rumah, kebun, hadiah atau hiasan apa saja.
6.      Gunakan flash card untuk belajar warna, bentuk, pola, huruf dan angka.

  v  Beberapa ide agar anak-anak yang cenderung auditorial (belajar melalui pendengaran) dapat belajar dengan lebih baik
1.      Mendengarkan musik. Cari tahu musik apa yang mereka sukai dan gunakan musik untuk mengatur suasana hati mereka sebelum, saat (sebagai latar belakang) dan sesudah (sebagai hadiah/reward) belajar.
2.      Masukkan musik ke dalam topik yang sedang dipelajari, misalnya irama tertentu untuk mengingat suatu pelajaran. Mereka akan lebih cepat menyerap pelajaran tersebut.
3.      Bicaralah dengan nada tenang dan teratur. Anak-anak auditorial membedakan guru mereka dari nada dan tinggi rendahnya suara para guru.
4.      Berceritalah dalam mengajarkan sesuatu dan gunakan nada yang berbeda untuk menekankan topik tersebut.
  v  Beberapa ide agar anak-anak yang cenderung kinestetik (belajar melalui gerakan)dapat belajar dengan lebih baik:
1.      Menari : gunakan lagu dengan irama yang menyenangkan.
2.      Memasak : biarkan mereka berkreasi dan belajar mengukur, menghitung, membaca sambil mengaduk sesuatu.
3.      Pekerjaan tangan (art & craft) : menggunting, menempel, menggambar, finger painting, membuat sesuatu dengan ’play dough’.
4.      Gunakan metode ’hands-on’ dimana anak harus mecoba melakukan sesuatu sendiri dan bukan hanya menyaksikan demo.
5.      Belajar melalui eksperimen:
Anak Sekolah dasar senang mengeksplorasi setiap hal yang ada disekitarnya. Maka dari itu cara efektif bagi anak umur 6-12 tahun yaitu bereksperimen/bereksplorasi.
Contoh:  Anak diajarkan cara mencampurkan warna,misal warna hitam dicampurkan ke dalam warna putih menjadi abu-abu. Manfaat cara belajar melalui eksperimen ini agar belajar menikmati proses sehingga kreativitas dan rasa ingin tahunya lebih berkembang
6.      Menggunakan metode mengajar secara kontekstual
Ini sebuah pembelajaran yang terdiri dari beberapa kegiatan bertanya, inkuiri, pemodelan, refleksi serta penilaian.
Metode ini bermanfaat agar anak mampu berfikir kreatif dengan membangun sendiri materi yang akan mereka dapatkan
7.      Menggunakan metode collaborative learning
Belajar kolaboratif merupakan kegitan kelompok yang bekerja sama untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan bersama. Biasanya anak berumur 6-12 tahun lebih senang untuk melakukan tugas atupun bermain secara bersama-sama oleh teman sebayanya. Karena itu metode ini sangat membantu agar pembelajaran mereka tepat.

8.    Memberikan contoh nyataCara belajar efektif untuk anak sd kelas 1 Dan 2 yaitu dengan    meniru. Anak akan melakukan pengamatan pada sesuatu yang menarik. Lalu mereka mulai belajar menirukan apa yg telah dilihatnya.



 III.            Masa Remaja (tingkat SMP & SMA)
·         Usia 11/12 tahun – 18/24 tahun
·         Perkembanga Fisik mengarah kebentuk badan orang dewasa
·         Perkembangan Seksual : mulai aktifnya hormon seksual (menarche dan polutia)
·         Perkembangan Heteroseksual, yaitu sudah mulai tertarik dengan lawan jenis
·         Perkembangan Emosional : emosi tidak stabil, berubah-ubah dan cenderung meledak-ledak ketika marah
·         Perkembangan Kognitif berada di tahap Operasional Formal
Mampu berpikir logis, menaruh perhatian tentang masa depan, konsep ideologis, dan membuat hipotesis
·         Pola pikir cenderung egosentris
·         Perkembangan psikososial berada di tahap pencarian identitas diri yaitu Identity vs Role Confussion
·         Perkembangan Moral, biasanya berada di tingkat Konvensional, namun sebagian berada ditingkat Postkonvensional
Tahap 5           : Orientasi Kontrak Sosial
Tahap 6           : Orientasi Asas Etis

Implikasinya    :
Cara belajar yang baik untuk anak SMP & SMA bisa dengan cara :
1.      Belajar Kelompok
Sekarang ini anak anak remaja lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan teman temannya. Kebanyakan juga anak sekolah lebih suka mengerjakan tugas atau sesuatu bersama sama dengan teman teman. Cara ini terhitung efektif karena dengan ini setiap dari mereka pasti akan saling bertukar informasi dan dapat menyelesaikan soal yang tingkat kesulitannya tinggi.

2.      Sebelum belajar baca materi dan lihat garis besarnya
Membaca buku sebelum memulai pembelajaran sangatlah efektif. Karena setiap siswa akan lebih mudah menangkap pelajaran tersebut. Namun, adakala ketika membaca materi tersebut ada hal yang tidak kita mengerti. Fungsi dari membaca bukanlah untuk mengerti semua materi. Akan tetapi untuk memahami apa yang sebenarnya dipelajari. Dengan meliihat Subjudul, Keterangan gambar, dan ringkasan yang ada. dengan begitu sudah pasti akan lebih efektif cara belajar nya.

3.      Buatlah catatan dari bahan pelajaran
Sangat akan terbantu sekali jika setiap pembelajaran membuat ringkasan atau catatan. hal ini akan sangat berguna sekali. dan tentu saja kamu juga harus membaca kembali catatan yang sudah kamu buat. Nah kalo boleh, buatlah catatan nya di buku kecil yang bisa dibawa kemana mana.

4.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan hobi dan minatnya melalui kegiatan – kegiatan yang positif.

5.      Belajar lah Mengulangi setiap materi
Ketika kita telah membuat sebuah catatan, membaca materi sebelum masuk kelas tapi kalo belum mempelajri ulang pelajaran itu, maka semuanya akan sia sia. karena pelajaran tersebut belum masuk ke long term memori. sebaiknya ketika sudah sampai dirumah, baiknya membaca kembali pelajaran yg di sekolah. dengan begitu kamu melatih ingatan kamu tentang pelajarannya dan kamu  mulai memasukkan nya kedalam long term memori. dan ketika kamu ujian, kamu tidak akan kesulitan, karena kamu sudah menguasai pelajaran tersebut.

6.      Menerapkana pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individu atau kelompok kecil.
7.      Meningkatkan kerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk mengembangkan potensi siswa
8.      Tampil mejadi teladan yang baik bagi siswa
9.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab




Sabtu, 04 Maret 2017

Teori Belajar

BELAJAR
            Belajar adalah pengaruh yang relatif permanen atas perilaku, pengetahuan,dan keterampilan berpikir yang diperoleh melalui pengalaman. Tidak semua yang kita tahu itu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan itu sejak lahir,dan tidak dipelajari. Ada bebarapa pandangan tentang pendekatan dalam pembelajaran, diantaranya :
I.                   Behavioral
Pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Di dalam pandangan behavioral ini, ada dua pendekatan pembelajaran yaitu :
1.      Pengkondisian Klasik
Merupakan tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasiakan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Ada dua tipe stimuli dan respon dalam  teori pengkondisian klasik Pavlov (1927) yaitu, unconditioned stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu, unconditioned response (UR)adalah respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US, conditioned stimulus (CS)adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan denganUS, dan conditioned respon (CR) adalah respon yang dipelajari terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS

Contoh dari Pengkondisian Klasik

1. Ketika saya sedang duduk, saya merasa ada sesuatu di punggung saya, dan ketika saya lihat, ternyata itu adalah seekor kecoa. Refleks saya langsung lompat,menjerit dan saya sangat ketakutan. Ketika setelah beberapa hari ada sesuatu yang menyentuh di punggung saya , dan saya refleks melompat dan ketakutan.
  Disini dapat kita ketahui bahwa Unconditioned Stimulusnya adalah seekor kecoa, dan Unconditioned Respon nya adalah perilaku melompat, menjerit dan takut. Nah sedangkan Conditioned Stimulus nya yaitu ketika ada sesuatu yang menyentuh punggung saya dan menghasilkan Conditioned Respon seperti perilaku melompat, dan ketakutan.

2. Ketika saya sedang istirahat di dalam kamar tepat pada malam hari, sedang terjadi hujan deras dengan diringi petir.  Saat itu saya sedang asik membaca sebuah novel. Tiba tiba lampu padam dan petir tiba tiba datang dengan suara yang begitu keras. Refleks saya teriak ketakutan dan menutup kedua telinga saya. Selang berapa menit, lampu kembali hidup. Kira kira 5 menit setelah lampu hidup petir tiba tiba menyambar dan saya berteriak ketakutan dan menutup telinga.  Jadi setiap saya mendengar suara petir saya refleks berteriak dan menutup telinga saya.

3. Pada sebuah tempat perkumpulan orang-orang yang terkena musibah bencana alam, orang-orang yang begitu melihat barang-barang bantuan (sandang dan pangan) telah tiba akan segera berlari ke posko tersebut untuk menerima atau merebut bantuan tersebut. Lalu, seterusnya pada hari-hari berikutnya mereka menyadari bahwa tak lama setelah helicopter lewat, bala bantuan akan segera sampai di posko. Jadi, mereka pun akhirnya berinisiatif ke arah posko tak lama setelah ada helicopter yang lewat.

4. Ketika saya masih kecil, saya suka mengganggu seekor katak. Tapi,setelah saya dikencingi yang menyebabkan kulit saya menjadi gatal-gatal, saya mulai menjauhinya. Setelah beberapa saat, jika kulit saya tersentuh kulit katak ataupun tersentuh sesuatu yang bertekstur seperti kulit katak, maka saya refleks akan langsung menjauhinya.

5. Saya adalah penyuka makanan seafood, terutama udang. Tetapi Saya pernah mual ketika saya telah memakan udang. Kemudian, untuk beberapa saat ketika saya melihat udang dan seafood lainnya, saya refleks merasakan mual kembali. Semenjak saat itu, saya tidak berani untuk memakan makanan seafood lagi.







2.      Pengkondisian Operan

Merupakan bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.

Contoh dari Pengkondisian Operan

1.      Saya memiliki adik laki laki yang berumur 13 tahun. Saat ini adalah masa masa puber nya. Saat itu saya mendapati dia sedang bermain dengan anak anak yang seusia dengan dia. Dan mereka bermain sambil mengotori rumah. Saya geram dengan kelakuan mereka. Saya menasehati mereka, kalau bermain itu jangan mengotori rumah. Kalau mereka masih bermain sambil mengotori rumah saya tidak akan memberikan mereka kue yang saya buat sendiri. Dan besoknya mereka tidak mengotori rumah lagi. Dan tentu saja kuenya saya beri ke mereka. Dan ternyata ketika saya tidak memiliki kue untuk di berikan kepada mereka, mereka tetap tidak mengotori rumah.

2.      Seorang anak yang malas belajar, ketika ia dijanjikan oleh orangtuanya jika ia rajin belajar dan mendapatkan juara kelas, maka ia akan mendapatkan sepeda baru yang sangat diinginkannya. Maka anak tersebut belajar dengan rajin dan mendapatkan juara kelas yang akhirnya ia diberikan sepeda baru oleh orangtuanya
Anak tersebut diberikan penguat positif sehingga ia melakukan kegiatan belajar yang berulang-ulang agar mendapatkan reward sepeda baru oleh orang tuanya.

3.      Ketika SD, saya memiliki seorang guru yang biasa disebut bu Regar,orangnya sangat penyabar dan penyayang,dia selalu membujuk dan menyarankan kepada para muridnya untuk belajar dengan giat,dia memberikan motivasi yang membuat murid-muridnya jadi lebih bersemangat. Bukan hanya itu saja,setiap anak yang rajin dan pandai juga akan diberikan reward,jika kita mampu menjawab pertanyaan yang ia berikan,maka kita akan pulang lebih awal dibanding teman-teman kita yang lain,kondisi seperti ini membuat anak-anak jadi lebih bersemangat dan lebih antusias.

4.      Saya malas menulis dikelas, ketika guru mendiktikan sebuah pelajaran saya berpura pura menulis, namun hal itu diketahui oleh sang guru dan memberikan hukuman yang memalukan bagi saya, dan itu menjadikan saya malu jerah. Kemudian di lain hari ketika guru tersebut kembali mendiktikan pelajaran saya menulisnya dengan benar agar tidak di hukum kembali.

5.      Saat SD jika saya mempunyai nilai sembilan di raport. Orang tua saya akan memberikan imbalan setiap satu angka sembilan yang saya miliki dengan imbalan uang. Itu membuat saya bersemangat dan dan lebih giat dalam belajar.




II.                Kognitif

   Merupakan proses belajar dimana yang menekankan pada efek pikiran terhadap perilaku. Pendekatan ini berusaha mengubah konsepsi berpikir, meperkuat keahlian seseorang dalam menangani sesuatu,meningkatkan kontrol diri, dan mendorong refleksi diri.

Contoh Kognitif
1.          Ketika saya SMA Saya mempunyai seorang teman yang terkenal di kalangan guru dan mendapat juara paralel (juara umum). Kemudian saya, memperhatikan bagaimana cara belajar dia. Ternyata berbeda saya. Dia sering membahas-bahas soal dan karenanya dia sering menjawab pertanyaan dari guru. Saat SMA, kalau ada murid yang rajin dan bisa menjawab pertanyaan maka aada nilai plus bagi si murid. Oleh sebab itu, saya meniru cara belajar dia. Sebelumnya cara saya belajar itu adalah merangkum apa-apa saja yang dikatakan guru di kelas dan merangkum jawaban-jawaban dari pertanyaan guru. Saya pun lama kelamaan menjadi suka membahas-bahas soal, baru merangkum jawabannya dan membandingkannya dengan apa yang telah dijelaskan oleh guru. Akhirnya saya pun mendapat nilai yang baik dan bisa mendapat ranking di kelas. Walaupun tidak paralel. Dan sebagian besar guru mengenal saya juga.
           Dari kejadian tersebut, dapat dirasakan bahwa saya me’modelling’ teman saya. Tampak proses kognitif yang saya lakukan dalam meniru dia. Yang pertama, saya memperhatikan (attention) bagaimana cara belajarnya. Selanjutnya saya mengingat dan memahami (retention) bagimana cara dia belajar, lalu menerapkan cara belajar dia (reproduction) ke dalam diri saya. Dan yang menjadi motivasi saya adalah mendapat nilai dan dikenali oleh guru-guru saya.

2.       Ketika seorang mahasiswa di bebani begitu banyak tugas dan dia tidak dapat memanajemen waktunya dengan baik, dia akan merasa stress dan merasa bebannya sangat sulit untuk diatasi. Namun ia melihat temannya yang memiliki beban yang sama namun masih bisa bersenang senang dan tugasnya terselesaikan dengan baik. Kemudian dia berfikir untuk mengubah perilakunya, ia bersemangat dan mulai memperbaiki perilakunya. Dan sekarang ia merasa mulai membaik dengan perubahannya tersebut.

3.         Ketika seseorang mengalami penyakit parah, hari-harinya hanya dihabiskan untuk menyendiri dan meratapi diri sendiri. Namun, ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang memiliki penyakit yang sama parahnya dengan dirinya. Tetapi, orang tersebut terlihat berbeda, ia lebih bersemangat dan lebih berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Kemudian ia berpikir untuk mengubah perilaku nya, ia merasa bersemangat ketika melihat orang tersebut. Ia mulai melakukan hal yang sama yaitu dengan me’modeling’ perilaku orang tersebut, dari tidak meratapi diri sendiri, dan mulai berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Dan sekarang ia merasa mulai membaik dengan perubahannya tersebut.

4.           Saya memilki keponakan kecil yang berusia 3 tahun. Saat itu saya membawa dia jalan jalan keliling kota. Dan saat perjalanan terakhir kami singgah di pantai. Dan saya mengeluarkan hp saya untuk foto. Saya memfoto keponakan saya ini. Awalnya ia hanya bergerak kesana kemari. Tetapi saat ia bermain pasir, ia melihat ada segerombolan anak remaja sedang berkerumunan dan wefie. Mereka terlihat bahagia dalam wefie tersebut. Kemudian keponakan saya ini menghampiri saya dan meminta hp saya. Awalnya saya bingung dan tidak memberi hp saya. Dan saat itu dia menunjukkan gerombolan remaja tadi. Dan mengatakan poto poto. Akhirnya saya mengeluarkan hp dan berfoto. Apa yang dia lihat ketika si remaja tersebut berfoto dengan berbagai gaya dan ia meniru semua gaya berfoto. 
               Dan tiba tiba dia mengambil hp saya dan selfie sendiri sama seperti apa yang mereka lakukan.Dari kejadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keponakan saya telah “memodeling” remaja tersebut. Tampak proses kognitif yang keponakan saya lakukan dalam meniru remaja itu. Yang pertama, dia memperhatikan (attention) mereka wefie ( we selfie). Selanjutnya keponakan saya mengingat dan memahami (retention) bagaiamana cara mereka bergaya, lalu menerapkan cara bergaya mereka (reproduction) ke dalam dirinya.


5.          Seorang anak kecil yang tidak bisa bermain sepeda, berniat untuk belajar naik sepeda, tapi setelah beberapa saat ia terjatuh dan mengurungkan niatnya untuk belajar naik sepeda. Keesokan harinya ia melihat temannya yang sedang asik bermain sepeda. Setelah melihat temannya, ia berpikir untuk mencoba belajar kembali, walaupun ia jatuh, ia tetap belajar sampai ia bisa. Dan akhirnya setelah belajar, anak tersebut telah mahir bermain sepeda.









 Psikologi Pendidikan A


Devi Novia

Fany Sofy Ariski (161301028)

Mhelsy Yuniar

Nur Aliya (161301025)

Septiana Naibaho

Suci Pratiwi (161301020)

Muhammad Agung


 
 

Pandangan Pertama Template by Ipietoon Cute Blog Design